Di tengah denyut panjang sejarah Pondok Pesantren Qomaruddin (yang telah berdiri sejak pertengahan abad ke-18) lahirlah sebuah ruang pembinaan yang menjadi jantung spiritual bagi mahasiswa, yaitu Ma’had Al-Jami’ah Universitas Qomaruddin. Ia merupakan sebuah ikhtiar panjang dalam merawat tradisi, membentuk karakter, dan menyiapkan generasi yang cerdas secara intelektual, dan kokoh dalam nilai-nilai keislaman.
Pesantren Qomaruddin sejak awal dikenal sebagai kawah candradimuka lahirnya insan-insan berilmu dan berakhlak. Tradisi keilmuan yang berpadu dengan pembinaan ruhani telah menjadi ciri khas yang terus dijaga lintas generasi. Dalam perjalanan panjang itu, kebutuhan akan pendidikan tinggi yang tetap berakar pada nilai pesantren menjadi sebuah keniscayaan. Maka, lahirlah berbagai institusi pendidikan tinggi di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Qomaruddin—sebuah langkah besar dalam menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan jati diri.
Momentum penting terjadi pada tahun 2019, ketika Sekolah Tinggi Teknik Qomaruddin (STTQ) dan Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Qomaruddin disatukan menjadi Universitas Qomaruddin. Penyatuan ini merupakan simbol transformasi besar dalam dunia pendidikan di lingkungan pesantren. Di titik inilah Ma’had Al-Jami’ah lahir sebagai ruh yang menghidupkan nilai-nilai keislaman di tengah dinamika kehidupan kampus.
Pada masa awal berdirinya, Ma’had Al-Jami’ah berada di bawah kepemimpinan Drs. Mudhofar Utsman sebagai mudir. Dalam kepemimpinan beliau, pondasi Ma’had mulai dibangun dengan semangat integrasi antara ilmu pengetahuan dan nilai-nilai keagamaan. Ma’had menjadi pusat pembinaan karakter yang menjadi tempat bagi mahasiswa untuk belajar memahami agama secara mendalam, sekaligus mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Seiring waktu, peran Ma’had semakin terasa penting. Universitas Qomaruddin memposisikan diri sebagai institusi akademik, sekaligus sebagai bagian dari ekosistem pesantren yang memiliki tanggung jawab moral terhadap masyarakat. Di sinilah Ma’had Al-Jami’ah memainkan peran strategis, yaitu menjembatani dunia akademik dengan tradisi keilmuan pesantren, sekaligus memastikan bahwa setiap lulusan tidak kehilangan akar spiritualnya.
Perjalanan Ma’had Al-Jami’ah memasuki babak baru ketika Institut Agama Islam Qomaruddin (IAIQ) resmi bergabung ke dalam Universitas Qomaruddin pada tahun 2022. Integrasi ini membawa perubahan besar dalam struktur kelembagaan, termasuk dalam pengelolaan Ma’had. Dengan semakin luasnya cakupan keilmuan dan bertambahnya ragam mahasiswa, kebutuhan akan pembinaan keagamaan yang lebih sistematis dan terstruktur menjadi semakin mendesak.
Dalam struktur baru tersebut, kepemimpinan Ma’had Al-Jami’ah dipercayakan kepada Alimin, S.H., M.H. Sebuah amanah besar yang menuntut kemampuan manajerial, dan visi yang kuat dalam mengembangkan Ma’had sebagai pusat pembinaan keagamaan yang unggul dan relevan dengan perkembangan zaman. Di bawah kepemimpinan ini, Ma’had terus bertransformasi dengan menguatkan program, memperluas jangkauan pembinaan, dan menghadirkan pendekatan yang lebih adaptif terhadap kebutuhan mahasiswa masa kini.
Namun di tengah segala perubahan dan perkembangan, satu hal tetap menjadi pegangan, yakni nilai-nilai pesantren. Prinsip al-muhafadzah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah menjadi ruh yang menuntun setiap langkah Ma’had Al-Jami’ah. Merawat tradisi lama yang baik, sekaligus mengambil hal-hal baru yang lebih baik. Prinsip ini bukan sekadar slogan, melainkan filosofi hidup yang diterjemahkan dalam setiap program, kebijakan, dan aktivitas pembinaan.
Di Ma’had Al-Jami’ah, mahasiswa belajar membaca Al-Qur’an dan/atau menghafalnya. Mereka juga belajar memahami maknanya, mengkaji hadits, mendalami kitab kuning, serta membiasakan diri dengan tradisi pengajian dan khutbah. Lebih dari itu, mereka ditempa untuk menjadi pribadi yang berakhlak, disiplin, dan memiliki kepekaan sosial. Ma’had menjadi ruang di mana ilmu dan adab berjalan beriringan.
Kehidupan di Ma’had juga mencerminkan harmoni antara tradisi dan modernitas. Di satu sisi, nilai-nilai klasik pesantren tetap dijaga, seperti: kesederhanaan, ketaatan, dan penghormatan terhadap ilmu. Di sisi lain, pendekatan pembinaan terus diperbarui agar relevan dengan tantangan zaman. Mahasiswa didorong untuk tidak hanya memahami agama secara tekstual, tetapi juga kontekstual sehingga mampu menjawab persoalan-persoalan aktual dengan perspektif keislaman yang moderat dan inklusif.
Seiring berkembangnya Universitas Qomaruddin sebagai institusi pendidikan tinggi, Ma’had Al-Jami’ah juga terus memperkuat posisinya sebagai pusat pengembangan keagamaan. selain melayani kebutuhan internal mahasiswa, Ma’had juga menjadi bagian dari kontribusi universitas kepada masyarakat. Melalui berbagai kegiatan keagamaan, pelatihan, dan pengabdian, Ma’had turut hadir dalam membangun kehidupan sosial yang lebih religius dan berkarakter.
Hari ini, Ma’had Al-Jami’ah berdiri sebagai simbol komitmen Universitas Qomaruddin dalam menjaga keseimbangan antara ilmu dan iman. Ma’had adalah tempat di mana mahasiswa ditempa untuk menjadi insan yang memiliki integritas, spiritualitas, dan tanggung jawab sosial.
Ke depan, tantangan tentu akan semakin kompleks. Dunia terus berubah, teknologi berkembang, dan dinamika sosial semakin beragam. Namun, Ma’had Al-Jami’ah memiliki pondasi yang kuat untuk menghadapi semua itu. Dengan berpegang pada nilai-nilai pesantren dan terus berinovasi dalam pembinaan, Ma’had siap melahirkan generasi yang mampu bersaing, dan mampu memberi arah.
Karena pada akhirnya, Ma’had Al-Jami’ah adalah menjadi ruh universitas. Ma’had adalah penjaga nilai. Ia adalah tempat di mana masa depan dibentuk dengan ilmu, dengan iman, dan dengan akhlak.
