Skip to content
Ma'had Al-Jami'ah Universitas Qomaruddin Gresik

Ma'had Al-Jami'ah Universitas Qomaruddin Gresik

Pusat Pengembangan Keagamaan yang Unggul, Kompetitif, dan Berkarakter Pesantren

  • Beranda
  • Tentang Kami
    • Sejarah
    • Profil
    • Visi, Misi, dan Tujuan
    • Struktur Pengelola
    • Buku Pedoman Ma’had
  • Program
    • Pembinaan Kompetensi Kepesantrenan
    • Pesantren Ramadhan
    • Pengembangan MKWK Agama
    • Majelis Ya Kafi
    • Pelestarian Manuskrip Pesantren
  • Kajian
  • Layanan
  • Berita
  • Pengumuman
  • Publikasi
  • Kontak
  • Toggle search form

KETIKA PIKIRAN TAK MAU DIAM: Tasawuf sebagai Penawar Overthinking Generasi Z

Posted on September 30, 2026September 30, 2026 By adminmahad No Comments on KETIKA PIKIRAN TAK MAU DIAM: Tasawuf sebagai Penawar Overthinking Generasi Z

Oleh: Adinda Talia Salsabilah

Malam yang seharusnya menjadi waktu untuk beristirahat justru sering menjadi waktu yang paling melelahkan bagi saya. Bukan karena banyaknya aktivitas, melainkan karena pikiran yang terus memikirkan berbagai hal, terutama tentang masa depan. Saya sering memikirkan banyak hal sekaligus. Seperti masa depan, membahagiakan orang tua, tugas kuliah, ataupun pekerjaan yang saya dapatkan setelah kuliah. Bahkan, hingga pertanyaan yang paling sering saya pikirkan “apakah saya akan baik-baik saja nanti?”, “apakah saya nanti bisa membahagiakan orang tua nanti?”. Semakin dipikirkan, semakin banyak pula pertanyaan-pertanyaan yang seharusnya tidak dipikirkan yang muncul. Semuanya itu tidaklah menyenangkan.

Sebenarnya saya sering menemui video di media sosial yang membahas tentang overthingking. Terutama yang paling sering dibahas adalah di era generasi Z. Banyak orang membagikan pengalaman mereka saat merasa cemas berlebihan terhadap masa depan. Beberapa diantaranya seperti pekerjaan, pendidikan, maupun kehidupan pribadi mereka. Bukan hanya satu atau dua orang saja yang mengalami hal tersebut. Yang saya lihat di kolom komentar pada video-video tersebut sering kali di penuhi oleh pengguna akun lain yang mengalami hal serupa. Dari situ saya menyadari bahwa overthingking bukan masalah yang saya alami sendiri. Tetapi banyak juga anak muda lainya yang mengalami hal yang sama.

Bahkan, dari beberapa cerita yang saya lihat, overthingking bisa membuat seseorang lelah secara pikiran. Ada juga yang mengaku sulit tidur, karena terlalu banyak yang dipikirkan seperti hal-nya yang saya alami sendiri. Ada juga yang kesulitan fokus belajar atau bekerja. Ada pula yang merasakan cemas setiap hari. Dari berbagai cerita yang saya temui, dan dari pengalaman yang saya alami sendiri, overthingking tidak bisa dianggap sepele jika dibiarkan terus menerus. Karena jika dibiarkan, bisa mengganggu kesehatan mental dan mengganggu aktivitas sehari-hari.

Karena rasa penasaran saya, setelah melihat banyaknya video beberapa orang yang membagikan pengalamannya mengalami overthingking. Saya mencoba mencari tahu beberapa artikel yang membahas hal tersebut. Salah satu yang saya temukan dari artikel Halodoc yang mengutip data American Psychological Association (APA). Dalam artikel tersebut, disebutkan bahwa sekitar 91% Generasi Z pernah mengalami gejala stres, baik secara fisik maupun emosional. Salah satu bentuk yang sering muncul adalah overthinking, yaitu kecenderungan memikirkan sesuatu secara berlebihan hingga menimbulkan kecemasan.

Setelah membaca lebih lanjut, saya menemukan bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan semakin parahnya rasa overthingking seseorang, terutama di generasi Z sekarang. Salah satunya adalah media sosial yang sering kali menjadi tempat seseorang membadingkan kehidupanya dengan kehidupan orang lain. Karena setiap membuka sosial media, kita akan melihat berbagai unggahan tentang pencapaian orang lain. Mulai dari keberhasilan dalam pendidikan, karier, hingga kehidupan pribadi mereka. Tanpa disadari, hal tersebut terkadang memunculkan perasaan, apakah mereka tertinggal atau belum cukup baik. Jika tidak disikapi dengan bijak, kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain dapat memicu overthingking, dan sulit merasa puas terhadap apa yang telah dimilikinya.

Setelah melihat kondisi tersebut, yang semakin banyak menjadi permasalahan yang dialami di era generasi Z sekarang. Saya mulai mencari bagaimana Islam memandang kegelisahan yang banyak dialami generasi Z saat ini. Dalam Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa ketenangan hati tidak hanya diperoleh melalui usaha manusia. Tetapi juga melalui sikap tawakal kepada Allah. Beliau menyatakan, “التوكل عبارة عن اعتماد القلب على الله تعالى” yang berarti “tawakal adalah bersandarnya hati kepada Allah Ta’ala.”  Saat membaca bagian tersebut, saya merasa bahwa apa yang telah dijelaskan Imam Al-Ghazali masih sangat dekat dengan kehidupan anak muda saat ini.

Banyak dari kita, termasuk saya sendiri yang sering merasa cemas,  karena terlalu memikirkan hal-hal yang belum terjadi. Kita ingin tahu bagaimana masa depan akan berjalan. Apakah cita-cita akan tercapai?. Apakah yang kita bayangkan yang menjadi keinginan dan tujuan kita tercapai sesuai dengan apa yang kita harapkan, ataukah tidak sesuai?. Padahal, tidak semua hal bisa kita kendalikan. Terkadang kita sudah melakukan yang terbaik dengan berdoa dan berusaha. Tapi akhir yang kita dapat terkadang belum sesuai dengan tujuan awal. Kita sebagai manusia juga tidak bisa mengendalikan itu semua.

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa manusia tetap harus berusaha sebaik mungkin. Tetapi tidak perlu terus-menerus membebani hati dengan kekhawatiran terhadap hasil yang belum pasti. Bagi saya hal ini sangat berkaitan dengan overthingking yang saat ini menjadi masalah yang sering dialami generasi gen Z. Terkadang kita sebagai manusia terlalu sibuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang bahkan belum tentu terjadi. Sampai-sampai kita lupa untuk menikmati dan menjalani kehidupan saat ini.

Selain tawakal, Imam Al-Ghazali juga menekankan pentingnya muhasabah atau intropeksi diri. Saya sendiri belum bisa sepenuhnya menerapkan muhasabah terhadap diri saya. Terkadang saya masih menyalakan keadaan tanpa melihat kembali apa yang sudah saya lakukan dan apa yang masih bisa di perbaiki dari saya. Maka dari itu, setelah saya baca apa yang telah dikatakan Imam Al-Ghazali dari kitab Ihya Ulumuddin, daripada terus memikirkan masa depan yang belum tentu terjadi, mungkin lebih baik jika fokus pada hal-hal yang masih bisa kita usahakan hari ini.

Hal tersebut memang tidak mudah untuk dilakukan. Terutama saat kita sering menghabiskan waktu melihat media sosial dan muncul unggahan seseorang yang mengunggah pencapaian hidupnya, kesuksesan dalam berkarir, dan kehidupan pribadi. Itu yang membuat pertanyaan-pertanyaan seperti, “kapan saya bisa sampai titik tersebut” seringkali bermunculan. Meskipun ikut senang melihat keberhasilan mereka, tidak bisa dipungkiri terkadang muncul perasaan khawatir terhadap masa depan yang takut tertinggal.

Dari pengalaman tersebut, saya merasa bahwa overthingking tidak selalu bisa diselesaikan dengan hanya mencari jawaban-jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepala. Semakin saya overthingking tentang masa depan, semakin banyak juga hal yang membuat saya khawatir. Dalam Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa ketenangan hati tidak hanya diperoleh melalui akal dan pemikiran. Tetapi juga melalui kedekatan seseorang hamba kepada Allah SWT. Pandangan ini dikenal sebagai pendeketan Irfani. Pendekatan ini merupakan upaya memperoleh ketenangan dan pemahaman melalui penyucian hati, dzikir, muhasabah, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Bagi saya, apa yang dijelaskan Imam Al -Ghazali dalam Ihya Ulumuddin masih sangat sesuai  dengan kehidupan kita saat ini. Beberapa kali saya, dan anak muda saat ini kadang masih sering sibuk mencari jawaban atas berbagai hal yang bahkan belum terjadi. Melalui ajaran tawakkal dan muhasabah, mengajarkan bahwa tidak semua hal harus saya pikirkan secara berlebihan. Ada bagian yang memang harus diusahakan. Tetapi ada juga bagian yang harus di serahkan kepada Allah SWT. Masa depan memang sering menjadi sumber kekhawatiran bagi banyak anak muda termasuk generasi Z sekarang. Namun , jika kita terus memikirkanya tidak akan membuat masalah atau masa depan lebih mudah atau lebih pasti. Karena itu, yang bisa kita lakukan lebih baik fokus pada apa yang masih bisa diusahakan hari ini, daripada terus memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi. Di saat yang sama, kita juga perlu lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui doa, dzikir, dan memperbaiki ibadah. Dengan begitu, hati tidak hanya akan sibuk memikirkan berbagai kemungkingan. Tetapi juga belajar untuk percaya bahwa Allah akan memberikan yang terbaik sesuai dengan kehendak-nya.

Daftar Rujukan

Al-Ghazali, Imam. Ihya Ulumuddin. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah (t.t.).

Fadli, Rizal. 2024. “Ini 5 Alasan Gen Z Lebih Rentan Terhadap Gangguan Mental.”diakses tanggal Halodoc, 5 Agustus 2024.

Esai Tags:al-ghazali, gen z, generasi z, overthinking, tasawuf

Post navigation

Previous Post: MEMBANGUN HARMONI DI TENGAH PERBEDAAN: Potret Multikulturalisme Masyarakat Sekitarku
Next Post: K-POP DAN DINAMIKA MULTIKULTURALISME DI INDONESIA

More Related Articles

REINTERPRETASI GENDER: Reinterpretasi Peran Perempuan Dalam Islam Nusantara Esai
Tradisi Metik Padi sebagai Wujud Toleransi dan Kerukunan Antar Umat Beragama di Desa Beton, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik Esai
MEMBANGUN HARMONI DI TENGAH PERBEDAAN: Potret Multikulturalisme Masyarakat Sekitarku Esai
SANTRI DAN MEDIA SOSIAL: Strategi Moderasi Beragama untuk Membendung Radikalisme Digital Esai
K-POP DAN DINAMIKA MULTIKULTURALISME DI INDONESIA Esai
Kartini, Kita, dan Hobi Lama; Mempertentangkan yang Sebenarnya Bisa Didamaikan Esai

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Archives

  • October 2026
  • September 2026
  • April 2026

Categories

  • Esai

Recent Posts

  • Tradisi Metik Padi sebagai Wujud Toleransi dan Kerukunan Antar Umat Beragama di Desa Beton, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik
  • SANTRI DAN MEDIA SOSIAL: Strategi Moderasi Beragama untuk Membendung Radikalisme Digital
  • K-POP DAN DINAMIKA MULTIKULTURALISME DI INDONESIA
  • KETIKA PIKIRAN TAK MAU DIAM: Tasawuf sebagai Penawar Overthinking Generasi Z
  • MEMBANGUN HARMONI DI TENGAH PERBEDAAN: Potret Multikulturalisme Masyarakat Sekitarku

Recent Comments

No comments to show.

Copyright © 2026 Ma'had Al-Jami'ah Universitas Qomaruddin Gresik.

Powered by PressBook Green WordPress theme