{"id":237,"date":"2026-10-01T16:17:46","date_gmt":"2026-10-01T16:17:46","guid":{"rendered":"https:\/\/mahad.uqgresik.ac.id\/?p=237"},"modified":"2026-10-01T16:17:47","modified_gmt":"2026-10-01T16:17:47","slug":"tradisi-metik-padi-sebagai-wujud-toleransi-dan-kerukunan-antar-umat-beragama-di-desa-beton-kecamatan-menganti-kabupaten-gresik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mahad.uqgresik.ac.id\/index.php\/2026\/10\/01\/tradisi-metik-padi-sebagai-wujud-toleransi-dan-kerukunan-antar-umat-beragama-di-desa-beton-kecamatan-menganti-kabupaten-gresik\/","title":{"rendered":"Tradisi Metik Padi sebagai Wujud Toleransi dan Kerukunan Antar Umat Beragama di Desa Beton, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik"},"content":{"rendered":"\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Oleh: Arlinda Inayatul Maulidah<\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan keberagaman budaya, agama, bahasa, dan adat istiadat. Keberagaman ini merupakan ciri khas yang membentuk identitas bangsa. Namun di sisi lain juga menjadi tantangan dalam menjaga keharmonisan sosial. Dalam konteks ini, konsep wujud toleransi dan kerukunan antar umat beragama menjadi penting untuk dikembangkan. Tujuannya adalah agar perbedaan tidak menjadi sumber konflik. Bahkan jika bisa menjadi kekuatan untuk membangun kehidupan sosial yang damai dan harmonis. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Salah satu fenomena menarik yang mencerminkan penerapan nilai-nilai toleransi dan kerukunan antar umat beragama dapat ditemukan di Desa Beton, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik, melalui tradisi Metik Padi. Tradisi ini merupakan ritual turun-temurun yang dilakukan masyarakat sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen padi yang melimpah. Walaupun mayoritas penduduk Desa Beton beragama Islam, tradisi ini melibatkan seluruh masyarakat desa tanpa memandang perbedaan keyakinan atau latar belakang sosial. Tradisi ini menjadi wujud konkret bagaimana nilai-nilai kebersamaan dan toleransi tumbuh dalam kehidupan masyarakat pedesaan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tradisi Metik Padi dilakukan setiap kali musim panen tiba. Kata \u201cmetik\u201d dalam bahasa Jawa berarti \u201cmemetik\u201d atau \u201cmemanen.\u201d Tradisi ini biasanya dimulai dengan kegiatan selamatan dan doa bersama di sawah atau rumah salah satu petani. Prosesi diawali dengan pembacaan tahlil dan doa syukur, yang dipimpin oleh seorang tokoh agama (kyai atau ustaz). Setelah doa selesai, masyarakat bersama-sama menikmati kenduri atau makan bersama dengan menu tradisional seperti tumpeng, ayam kampung, urap, dan hasil bumi lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Yang menarik dari tradisi ini adalah keterlibatan seluruh warga desa tanpa membedakan agama, status sosial, atau asal daerah. Warga non-Muslim pun ikut hadir dan berpartisipasi dalam bentuk membantu persiapan acara, menyediakan makanan, atau sekadar bergotong royong membersihkan area pelaksanaan. Tidak ada pemisahan atau batasan. Karena masyarakat memandang tradisi ini sebagai bentuk syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki yang diberikan. Fenomena seperti ini menggambarkan multikulturalisme yang hidup di tengah masyarakat desa. Di sana keberagaman diterima dan dijaga sebagai bagian dari keseharian. Masyarakat Desa Beton menunjukkan bahwa harmoni sosial dapat terwujud ketika nilai-nilai lokal dan keagamaan saling berpadu dalam semangat kebersamaan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tradisi Metik Padi tidak dapat terlaksana tanpa keterlibatan berbagai pihak dari seluruh lapisan masyarakat. Adapun kelompok-kelompok yang terlibat antara lain: <em>pertama,<\/em> petani dan keluarganya, sebagai pihak utama yang merasakan hasil panen dan menjadi penyelenggara kegiatan. <em>Kedua,<\/em> tokoh agama dan tokoh adat, seperti kyai, ustaz, atau sesepuh desa, yang memimpin doa dan memberikan nasihat kepada masyarakat mengenai pentingnya rasa syukur dan kebersamaan. <em>Ketiga,<\/em> perangkat desa yang mendukung kegiatan dari sisi administrasi dan menjaga agar tradisi ini tetap berjalan sesuai adat yang berlaku. <em>Keempat,<\/em> karang taruna dan pemuda desa yang berperan aktif dalam persiapan acara, membantu mendirikan tenda, mengatur tempat, dan mendistribusikan makanan. <em>Kelima,<\/em> masyarakat lintas agama dan budaya, termasuk warga pendatang, pedagang, dan buruh tani yang ikut terlibat secara sukarela.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Keterlibatan berbagai kelompok ini menunjukkan bahwa tradisi Metik Padi bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga ruang sosial yang mempertemukan seluruh warga dalam semangat gotong royong dan solidaritas. Dalam konteks ini, Metik Padi berfungsi sebagai jembatan sosial yang memperkuat hubungan antar warga dan memperkecil potensi gesekan akibat perbedaan latar belakang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Fenomena multikulturalisme dalam tradisi Metik Padi memiliki sejumlah dampak positif yang signifikan, baik dari segi sosial, budaya, maupun keagamaan. <em>Pertama,<\/em> Dampak Sosial. Tradisi ini memperkuat kohesi sosial antarwarga. Melalui kegiatan bersama, masyarakat menumbuhkan semangat gotong royong, saling membantu, dan menjaga hubungan baik antar tetangga. Tradisi ini juga berfungsi sebagai media komunikasi sosial, di mana warga dapat saling berbagi pengalaman dan mempererat tali persaudaraan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Kedua,<\/em> Dampak Budaya. Metik Padi menjadi sarana pelestarian kearifan lokal Jawa, terutama dalam hal penghormatan terhadap alam dan hasil bumi. Nilai-nilai budaya seperti tepa selira (toleransi), guyub rukun (kerukunan), dan andhap asor (rendah hati) hidup melalui praktik tradisi ini. Di tengah arus modernisasi, tradisi ini menjadi benteng yang menjaga identitas budaya lokal agar tidak hilang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Ketiga,<\/em> Dampak Keagamaan. Tradisi ini juga mengajarkan moderasi beragama, yakni sikap tengah dalam memahami dan mengamalkan ajaran agama tanpa berlebihan atau ekstrem. Masyarakat yang berbeda keyakinan tetap bisa berpartisipasi dengan saling menghormati. Warga Muslim berdoa menurut ajaran Islam, sementara warga non-Muslim menghargai dan turut serta dalam kebersamaan sosial. Hal ini membentuk pemahaman bahwa agama sejatinya membawa pesan perdamaian dan kemanusiaan, bukan pemisahan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Berkaitan dengan hal ini, penulis memiliki harapan agar tradisi Metik Padi di Desa Beton dapat terus dilestarikan dan dikembangkan di tengah perubahan zaman. Tradisi ini tidak hanya bernilai budaya. Tetapi juga memiliki nilai pendidikan moral dan sosial yang tinggi. Melalui tradisi ini, generasi muda dapat belajar tentang: (1) pentingnya rasa syukur kepada Tuhan atas rezeki yang diberikan; (2) nilai kebersamaan dan saling menghargai perbedaan antar warga;&nbsp; dan (3) arti gotong royong dan kepedulian sosial dalam kehidupan bermasyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selain itu, diharapkan pemerintah daerah dan lembaga pendidikan dapat mendukung pelestarian tradisi ini. Misalnya, lembaga-lembaga tersebut dapat menjadikan tradisi Metik Padi sebagai bagian dari kegiatan budaya desa atau program muatan lokal di sekolah-sekolah. Dengan begitu, tradisi ini tidak hanya menjadi warisan masa lalu. Lebih jauh tradisi Metik Padi dapat juga menjadi ruang pembelajaran sosial yang hidup di masa kini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Apabila penulis berperan sebagai aktor sosial di tengah masyarakat Desa Beton, penulis akan berupaya untuk menjaga dan memperkuat nilai-nilai toleransi dan kerukunan antar umat beragama yang terkandung dalam tradisi ini. Beberapa langkah konkret yang dapat dilakukan antara lain: <em>pertama,<\/em> menginisiasi forum lintas agama dan budaya, yang membahas pentingnya pelestarian tradisi dan toleransi antar warga. <em>Kedua,<\/em> mendokumentasikan tradisi Metik Padi dalam bentuk video, artikel, atau buku digital agar dikenal luas oleh masyarakat luar desa dan generasi muda. <em>Ketiga,<\/em> melibatkan pemuda dan pelajar desa agar mereka merasa memiliki tradisi ini dan memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. <em>Keempat,<\/em> mengadakan kegiatan sosial bersama, seperti bakti desa atau panen raya lintas agama, untuk memperkuat hubungan antarwarga. <em>Kelima,<\/em> menjadikan tradisi ini sebagai simbol moderasi beragama, dengan menjelaskan bahwa tradisi ini bukan ritual keagamaan semata, melainkan ekspresi rasa syukur dan persaudaraan lintas iman. Tujuan dari tindakan-tindakan tersebut adalah untuk menumbuhkan kesadaran sosial dan spiritual di kalangan masyarakat agar terus menghargai keberagaman sebagai anugerah Tuhan. Dengan demikian, kehidupan sosial di Desa Beton dapat terus berjalan damai, harmonis, dan berkeadilan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Arlinda Inayatul Maulidah Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan keberagaman budaya, agama, bahasa, dan adat istiadat. Keberagaman ini merupakan ciri khas yang membentuk identitas bangsa. Namun di sisi lain juga menjadi tantangan dalam menjaga keharmonisan sosial. Dalam konteks ini, konsep wujud toleransi dan kerukunan antar umat beragama menjadi penting untuk dikembangkan. Tujuannya adalah&#8230;<\/p>\n<p class=\"more-link-wrap\"><a href=\"https:\/\/mahad.uqgresik.ac.id\/index.php\/2026\/10\/01\/tradisi-metik-padi-sebagai-wujud-toleransi-dan-kerukunan-antar-umat-beragama-di-desa-beton-kecamatan-menganti-kabupaten-gresik\/\" class=\"more-link\">Read More<span class=\"screen-reader-text\"> &ldquo;Tradisi Metik Padi sebagai Wujud Toleransi dan Kerukunan Antar Umat Beragama di Desa Beton, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik&rdquo;<\/span> &raquo;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":238,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[35,36,34,32,14,33,37],"class_list":["post-237","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-esai","tag-desa-beton","tag-gresik","tag-kerukunan-antar-umat-beragama","tag-metik-padi","tag-multikulturalisme","tag-toleransi","tag-tradisi-metik-padi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mahad.uqgresik.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/237","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mahad.uqgresik.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mahad.uqgresik.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mahad.uqgresik.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mahad.uqgresik.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=237"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/mahad.uqgresik.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/237\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":239,"href":"https:\/\/mahad.uqgresik.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/237\/revisions\/239"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mahad.uqgresik.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/238"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mahad.uqgresik.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=237"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mahad.uqgresik.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=237"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mahad.uqgresik.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=237"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}