{"id":180,"date":"2026-04-21T06:12:39","date_gmt":"2026-04-21T06:12:39","guid":{"rendered":"https:\/\/mahad.uqgresik.ac.id\/?p=180"},"modified":"2026-04-21T06:20:24","modified_gmt":"2026-04-21T06:20:24","slug":"kartini-kita-dan-hobi-lama-mempertentangkan-yang-sebenarnya-bisa-didamaikan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mahad.uqgresik.ac.id\/index.php\/2026\/04\/21\/kartini-kita-dan-hobi-lama-mempertentangkan-yang-sebenarnya-bisa-didamaikan\/","title":{"rendered":"Kartini, Kita, dan Hobi Lama; Mempertentangkan yang Sebenarnya Bisa Didamaikan"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Oleh: Muttaqin Khabibullah (Sekretaris Ma&#8217;had al-Jami&#8217;ah Universitas Qomaruddin)<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setiap tanggal 21 April, kita seperti mengalami ritual tahunan yang cukup unik. Kita mengenakan kebaya, mengunggah foto bertema \u201cperempuan berdaya,\u201d lalu tanpa merasa bersalah kembali pada cara berpikir lama yang justru pernah dikritik oleh Raden Ajeng Kartini lebih dari seabad lalu. Kita merayakan Kartini, tetapi sering gagal memahami kegelisahannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Salah satu kegelisahan itu, jika dibaca dengan jujur, adalah soal pengetahuan, yaitu antara tradisi yang diwarisi dan modernitas yang datang dari Barat. Kartini tidak alergi terhadap ilmu pengetahuan Barat. Ia justru mengaguminya, rasionalitasnya, sistem pendidikannya, dan keberaniannya mempertanyakan otoritas. Namun di saat yang sama, ia juga tidak sedang ingin menjadi \u201cEropa edisi Jawa,\u201d \u201capalagi Belanda versi Jawa.\u201d &nbsp;Ada semacam kehati-hatian intelektual untuk menerima tanpa kehilangan diri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sayangnya, kita hari ini justru sering mengambil jalan pintas yang lebih ekstrem. Kita tampak lebih nyaman memilih kubu daripada membangun jembatan. Sebagian begitu terpesona pada modernitas hingga tradisi dianggap beban historis yang harus segera ditanggalkan. Sebagian lain begitu defensif terhadap tradisi hingga sains dicurigai sebagai proyek sekuler yang mengancam keimanan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kartini, menariknya, tidak melakukan keduanya. Ia tidak pernah menulis manifesto \u201canti-tradisi.\u201d Tetapi ia jelas gelisah terhadap praktik keagamaan yang hanya berhenti pada ritual tanpa pemahaman. Ini bukan kritik terhadap agama, melainkan terhadap cara beragama. Dalam bahasa sekarang, mungkin kita akan menyebutnya sebagai kritik terhadap \u201cformalisme tanpa epistemologi.\u201d Ia ingin memahami, dan bukan sekadar menerima.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di titik ini, Kartini sebenarnya lebih dekat dengan semangat pembaruan yang diusung tokoh-tokoh seperti Muhammad Abduh yang juga berupaya membaca ulang tradisi Islam dengan pendekatan rasional. Sikap Kartini jelas berbeda dengan sikap kita hari ini yang gemar menyederhanakan persoalan menjadi \u201cini islami\u201d atau \u201cini barat.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Masalahnya, kita hidup di zaman yang terlalu menyukai dikotomi. Integrasi Islam dan sains sering kali direduksi menjadi proyek kosmetik. Kita menempelkan ayat pada teori, seolah-olah legitimasi ilmiah bisa diperoleh dengan cara itu. Di sisi lain, ada juga yang menganggap sains cukup berdiri sendiri tanpa perlu nilai. &nbsp;Seakan-akan ilmu pengetahuan itu netral dan tidak pernah punya konsekuensi moral.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kartini mungkin akan tersenyum tipis melihat ini. Atau mungkin menghela napas. Sebab kegelisahannya justru berada di antara dua kutub itu. Ia tidak sedang mencari agama yang \u201cdibuktikan\u201d oleh sains, tetapi agama yang dipahami secara sadar. Ia juga tidak sedang mengejar sains yang bebas nilai, tetapi ilmu yang bisa memanusiakan. Dalam konteks ini, integrasi yang ia bayangkan lebih bersifat etis dan epistemologis sekaligus, meskipun tidak pernah ia istilahkan demikian.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Masalah berikutnya adalah cara kita memperlakukan tradisi. Kita sering menganggapnya sebagai sesuatu yang sakral dan final, padahal sejarah Islam sendiri menunjukkan bahwa tradisi selalu lahir dari proses interpretasi. Apa yang kita warisi hari ini dulunya juga merupakan hasil pembaruan di masanya. Ironisnya, kita justru membekukannya seolah-olah ia tidak boleh disentuh lagi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di sisi lain, modernitas kita pahami secara dangkal sebagai segala sesuatu yang \u201cbaru\u201d dan \u201cBarat,\u201d tanpa proses seleksi kritis. Padahal, seperti yang secara intuitif dipahami Kartini, tidak semua yang modern itu membebaskan, dan tidak semua yang tradisional itu menindas.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di sinilah letak pelajaran paling relevan dari Kartini, yaitu keberanian untuk berada di tengah ketegangan tanpa tergesa-gesa menyelesaikannya secara simplistik. Kartini tidak menawarkan jawaban siap pakai. Ia menawarkan cara berpikir. Ia mengajarkan bahwa tradisi perlu dibaca ulang, bukan ditinggalkan begitu saja. Ia juga menunjukkan bahwa modernitas perlu disaring, bukan ditelan mentah-mentah. Dalam bahasa yang lebih tajam, ia menolak menjadi murid yang patuh, baik terhadap tradisi maupun terhadap Barat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Maka, jika Hari Kartini hanya kita rayakan sebagai seremoni tanpa refleksi, kita sebenarnya sedang melakukan hal yang cukup ironis. Kita menghormati seorang pemikir dengan cara yang tidak terlalu menghargai pemikiran. Barangkali sudah saatnya kita berhenti memperdebatkan apakah kita harus memilih antara Islam atau sains, antara tradisi atau modernitas. Pertanyaan yang lebih Kartinian justru adalah, bagaimana kita membaca tradisi dengan akal yang hidup, dan bagaimana kita menggunakan sains dengan hati yang sadar?. Jika pertanyaan itu terasa tidak nyaman, mungkin di situlah tepatnya kita harus mulai.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selamat hari kartini &#8230;!!!<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Muttaqin Khabibullah (Sekretaris Ma&#8217;had al-Jami&#8217;ah Universitas Qomaruddin). Setiap tanggal 21 April, kita seperti mengalami ritual tahunan yang cukup unik. Kita mengenakan kebaya, mengunggah foto bertema \u201cperempuan berdaya,\u201d lalu tanpa merasa bersalah kembali pada cara berpikir lama yang justru pernah dikritik oleh Raden Ajeng Kartini lebih dari seabad lalu. Kita merayakan Kartini, tetapi sering gagal&#8230;<\/p>\n<p class=\"more-link-wrap\"><a href=\"https:\/\/mahad.uqgresik.ac.id\/index.php\/2026\/04\/21\/kartini-kita-dan-hobi-lama-mempertentangkan-yang-sebenarnya-bisa-didamaikan\/\" class=\"more-link\">Read More<span class=\"screen-reader-text\"> &ldquo;Kartini, Kita, dan Hobi Lama; Mempertentangkan yang Sebenarnya Bisa Didamaikan&rdquo;<\/span> &raquo;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":181,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[7,9,8],"class_list":["post-180","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-esai","tag-kartini","tag-modernitas","tag-tradisi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mahad.uqgresik.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/180","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mahad.uqgresik.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mahad.uqgresik.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mahad.uqgresik.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mahad.uqgresik.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=180"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/mahad.uqgresik.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/180\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":184,"href":"https:\/\/mahad.uqgresik.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/180\/revisions\/184"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mahad.uqgresik.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/181"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mahad.uqgresik.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=180"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mahad.uqgresik.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=180"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mahad.uqgresik.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=180"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}